Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Bambu Darah Siapa?

Gambar
Bambu Darah Siapa ? Ini darah siapa? Berbau amis menusuk hidung ! Itu bambu siapa ? Bambu patah tiada bertuan ! Ini, itu kami ! Kami yang terbaring membiru Diantara desingan peluru Tak berdaya dihantam dari segala penjuru Tak pedihkah kau melihat janda kami ? Yang kami tinggal ! Yang kami tinggal bertempur siang hari ? Tak pedihkah kau melihat teman kami ? Yang dihina ! Yang dicaci para kompeni Kami yang berbisik dalam duka mati muda ! Dada rasa sesak dan jam pun berdetak Tak perlu tersedu, mengaduh, dan malu Tak perlu tersedu, mengaduh, dan malu ! Kami tinggal tulang, wahai dungu ! Bangkai ku memang sudah membusuk Tapi semangatku kian merasuk ! Tapi kami tinggal tulang, kaulah yang temukan nilainya Kenang, ingatlah kami Puisi karya Lucky Pradana dalam rangka partisipasi "Lomba Hari Pahlawan" di SMA NEGERI 1 BINTAN UTARA

Pengertian, contoh, dan majas puisi

Pengertian Puisi Puisi datang dari bahasa Yunani, yaitu  Poet  yang berarti orang yang mencipta sesuatu lewat imajinasi. pribadi. Imajinasi pribadi maksudnya puisi merupakan karya yang benar-benar dihasilkan oleh seseorang berdasarkan pada pengalamannya dan belum pernah dibuat sebelumnya. Puisi mengungkap perihal fikiran serta perasaan dari seseorang penyair dengan cara yang imajinatif. Pikiran serta perasaan sang penyair kemudian disusun dengan fokus pada kekuatan bahasanya dengan struktur fisik dan batinnya. Puisi  merupakan sebuah karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah serta kaya akan makna dan arti. Di Indonesia, puisi merupakan bentuk kesastraan yang paling tua, yang terdiri dari 2 periode, menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia. Kedua periode tersebut adalah puisi klasik dan puisi modern. Penjelasan mengenai  puisi modern  Indonesia, yaitu puisi yang dihasilkan tanpa memperhatikan irama, bait, baris, serta rima. Puisi ini mengandu...

Sia - Sia (Chairil Anwar)

Gambar
Sajak Sia - Sia Penghabisan kali itu kau datang Membawa karangan kembang Mawar merah dan melati putih: darah dan suci. Kau tebarkan depanku serta pandang yang memastikan: Untukmu. Sudah itu kita sama termangu Saling bertanya: Apakah ini? Cinta? Keduanya tak mengerti. Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri. Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi. *Versi DCD (Editor)                                                                                                                                                                       ...